awal tahun iseng nonton acara pildacil. pemilihan dai cilik.
salut banget sama adik2 kecil itu yang sudah bisa menyampaikan dakwah kepada orang banyak, padahal mereka masih sangat belia. yang kalo dipikir2, menguasai kata2 aja mungkin masih sulit, tapi ternyata nggak tuh. jauh lebih lancar dari kebanyakan orang, termasuk saya.
bayangkan kalau bakat itu dipupuk terus sampai dewasa…
tapi ada satu hal nih agak mengganjal…
seperti masalah penyampaian kandidat yg dielimisasi. koq sepertinya terlalu berlebihan dalam mempermainkan emosi anak2 itu. mereka dipanggil bedua-dua atau bertiga, lalu di sebutkan siapa yg boleh terus ke pekan berikutnya dengan mundur beberapa langah, atau tetap di tempat, sebagai tanda kandidat tersebut bakal tereliminasi.
sampai akhirnya tinggal 3 orang saja, barulah ditentukan 1 orang sebagai peserta yang akan dieliminasi. itupun dengan ‘mempermainkan emosi’ anak2 itu dulu. sepertinya koq terlalu di dramatisir gitu…
nah, yang saya lihat waktu itu, adalah expresi anak2 yang kelihatannya sangat tertekan dan khawatir. coba bandingkan dengan expresi pada saat mereka berbicara di depan. penuh senyum dan expresif. sedangkan pada waktu nama anak yang dieliminasi dipanggil, saya lupa namanya, mungkin nila, dia terduduk lemas. pada saat itu kamera sempat memperlihatkan anak itu terduduk dipanggung, lalu gak lama kemudian, kamera menyorot presenter yang tetap memperhatikan kejadian di panggung.
mungkin ada cara lain yang lebih baik dalam cara menyampaikan hal-hal yang sifatnya kompetisi pada anak-anak. karena mereka sebenarnya hanya butuh support dan dukungan konstruktif untuk terus mengembangkan diri. jadi, belum waktunya deh drama2 eliminasi kayak kakak-kakak mereka di acara2 yg lainnya…



Recent Comments